Rabu, 16 Desember 2015

Kisah tentang Daun

Ini Kisah Tentang Daun
meliuk daun dibelai angin sungguh
selaksa hening menempuh
ditengah jengah kian jauh melangkah, itu meluruh
beku dingin lalu dan kejora mengedip sayu
melihat rembulan tenggelam tiada... terbayang..
sendiri termenung dilarut malam nan hening
hati sudah semakin menengadah oh ternyata mata... membasah
menanti munculnya sinar bersama sang fajar
tersenyum bundar
terdengar
jedar
jedar
jedar
lalu berlalulah menyingsing
berkuncuplah mawar mekar pagi itu
siratkanlah makna indah berseru
tetesan gutasi embun pun merepih
mengalir menyusuri urat daun
dan perlahan jiwa ini pun melangkah
tubuh pun mengiringi laju
gontai berjalan menuju cita dan asa
kini terik menyengat kulit yang coklat
siratkan manfaat dari jiwa yang hangat
memulailah dia bersama kicaunya
berucap basmallah sebagai pembuka dia berkarya
berharap Yang Maha Kuasa ridhoi jalannya

Senin, 14 Desember 2015

Cara Move On Menurut Islam

Cara Move On atau Lapang Dada Menurut Islam
Manusia diuji dan semua yakin tentang itu. Manusia akan mengalami dua situasi ketika dia diuji, yang pertama bisa jadi dia stress yang kedua  bisa jadi ia telah "Move On atau Lapang Dada". Move on atau lebih mar'ruf dengan lapang dada dalam bahasa indonesia memiliki beberapa pengertian. Berikut pengertian  pandang lapang menurut KKBI ONLINE

Pengertian dari "Move On atau Lapang Dada" adalah :
1/la·pang/ a 1 lebar (tentang ruangan, kamar, dan sebagainya); luas; 2 lega; senang: hatinya --; -- pikiran; 3 tidak sibuk; tidak repot; senggang: waktu --; saat --; 4 longgar; tidak sempit: baju anak perlu dibuat -- karena dia cepat besar;
-- dada 1 berasa lega (tidak sesak); 2 berasa senang; 3 tidak menjadi gusar; 
-- hati 1 merasa senang; merasa lega; 2 sabar; 
-- kira-kira lega hati; 
-- perut tidak pernah merasa kenyang; selalu ingin makan saja;

berlapang-lapang/ber·la·pang-la·pang/ a leluasa; bebas: kembalilah ke kampung, kau dapat hidup ~ di sana;duduk seorang bersempit-sempit, duduk bersama ~ , pb Mk dengan musyawarah atau secara gotong royong segala sesuatunya mudah dilaksanakan;

Dapat disimpulkan orang yang Move On atau Lapnag Dada, memiliki mentalitas menerima dan ridho atas segala sesuatu yang dia alami dengan  sabar dan ikhlas tanpa dia menyalahkan atau mencari kambing hitam dari musibah yang dia alami. Berikut tinjauan Islam agar seorang hamba yang beriman bisa "Move On atau Lapang Dada"

1. Tauhid

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahumullah mengatakan, “Hal terbesar yang akan menjadikan dada lapang adalah ketauhidan. Berdasarkan kesempurnaannya, kekuatannya, dan bertambahnya, kelapangan dada akan mengalami yang serupa. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ

“Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk ( menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (az-Zumar: 22)

فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ

 “Barang siapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah Subhanahuwata’ala kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (al-An’am 125)

Petunjuk dan tauhid adalah sebab yang paling besar bagi lapangnya dada, sebagaimana syirik dan kesesatan sebagai sebab terbesar dada menjadi sempit dan sulit.

2. Iman

Termasuk perkara yang akan menjadikan dada itu lapang adalah cahaya iman yang diletakkan oleh Allah Subhanahuwata’ala di dalam hati. Dengannya dada menjadi lapang, menjadikan hati selalu dalam kebahagiaan. Jika cahaya iman tersebut sirna, dadanya akan menjadi sempit dan sulit, berada dalam kungkungan yang paling sempit dan sulit. Seorang hamba akan mendapatkan kelapangan dada sesuai dengan bagian yang dia dapatkan dari cahaya tersebut, sebagaimana halnya cahaya yang bisa diraba serta kegelapan yang bisa di indra akan menjadikan dada lapang dan dada sempit.

3. Ilmu

Ilmu akan menjadikan dada lapang dan menjadikannya luas, bahkan melebihi luasnya dunia. Sementara itu, kejahilan akan mewariskan dada yang sempit, kerdil, dan tertutup. Di saat ilmu seorang hamba bertambah luas, maka bertambah lapang dadanya.

Tentu saja, hal ini tidak mencakup semua ilmu, tetapi hanya ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ilmu yang bermanfaat. Pemilik ilmu yang bermanfaat adalah orang yang paling lapang dadanya, paling luas hatinya, paling baik akhlaknya, dan paling bagus kehidupannya.

4. Bertobat kepada Allah l

Bertobat kepada Allah Subhanahuwata’ala, mencintai- Nya setulus hati, memasrahkan diri kepada-Nya, dan bernikmat-nikmat beribadah kepada-Nya, akan menjadikan dada lapang. Sebagian mereka terkadang mengucapkan, “Jika saya di dalam surga dalam kondisi ini, niscaya saya berada dalam kehidupan yang baik.”

5. Cinta kepada Allah Subhanahuwata’ala 

Sungguh, cinta kepda Allah Subhanahuwata’ala memiliki pengaruh menakjubkan bagi lapangnya dada, baiknya jiwa, dan lezatnya hati. Tidak ada yang mengetahuinya selain orang yang bisa merasakannya. Saat cinta itu kuat dan keras, niscaya dada itu akan menjadi lapang dan luas. Tidaklah dada menjadi sempit kecuali tatkala melihat orang-orang yang telanjang dari semuanya ini. Memandang mereka akan menjadikan mata kita penuh kotoran dan bergaul dengan mereka menjadikan ruh kita panas.

Termasuk perkara besar yang akan menyebabkan dada sesak adalah berpaling dari Allah Subhanahuwata’ala, bergantungnya hati kepada selain Allah Subhanahuwata’ala, lalai dari menginga Allah Subhanahuwata’ala, dan mencintai selain Allah Subhanahuwata’ala. Barang siapa mencintai sesuatu selain Allah Subhanahuwata’ala, niscaya Allah Subhanahuwata’ala akan mengazabnya dengan sesuatu (selain Allah) tersebut, yang akibatnya hatinya terbelenggu dalam mencintai selain Allah Subhanahuwata’ala. Akhirnya, tidak ada orang yang paling celaka di muka bumi ini daripada dirinya, tidak ada yang paling tertutup akalnya, yang paling jelek kehidupannya, dan yang paling lelah hati daripada dirinya.

6. Zikir kepada Allah Subhanahuwata’ala

Zikir kepada Allah Subhanahuwata’ala dalam segala kondisi dan di setiap tempat. Maka dari itu, zikir itu memiliki pengaruh menakjubkan terhadap lapangnya dada dan nikmatnya hati. Tentunya, sikap lalai memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menyempitkan dada, terbelenggu dan tersiksanya.

7. Berbuat Baik kepada Makhluk

Berbuat baik kepada setiap makhluk dan memberikan manfaat kepada mereka dengan segala yang memungkinkan seperti dengan harta, kedudukan, dan yang bermanfaat untuk badan (jasmani), serta berbagai bentuk kebaikan lainnya. Seorang yang dermawan dan senang berbuat baik adalah orang yang paling lapang dadanya, yang paling baik jiwanya, dan yang paling tenteram hatinya.

Sementara itu, sifat bakhil yang tidak ada padanya kebaikan adalah orang yang paling sempit dadanya, paling jelek kehidupannya, serta yang paling besar keperihan dan kesedihan hidupnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempermisalkan dalam riwayat yang sahih orang yang bakhil dan rajin bersedekah seperti halnya dua orang yang memiliki dua tameng besi.

Di saat orang yang gemar bersedekah mengeluarkan sedekahnya, maka melebarlah tameng itu dan meluas, hingga menutupi pakaian dan anggota badannya. Adapun apabila orang bakhil ingin bersedekah, tetaplah setiap lingkara  besi pada posisinya, tidak meluas. Demikianlah permisalan orang yang beriman dan gemar untuk bersedekah, lapang hatinya. Demikian pula pemisalan orang yang bakhil, sempit dadanya dan tersekap hatinya.

8. Keberanian

Seseorang yang memiliki jiwa pemberani akan memiliki dada yang lapang, luwes perangainya, dan terbuka hatinya. Sementara itu, seorang yang penakut berada dalam kondisi dada yang sempit dan yang paling kerdil hatinya. Dia tidak memiliki kebahagiaan, kesenangan, kelezatan, dan kenikmatan selain sebagaimana halnya binatang.

Oleh karena itu, kebahagiaan ruh, kelezatannya, kenikmatannya, dan kewibawaannya, menjadi sesuatu yang haram didapatkan orang yang memiliki sifat penakut, sebagaimana halnya terhalangi bagi orang yang bakhil, orang yang berpaling dari Allah Subhanahuwata’ala, lalai dari berzikir kepada-Nya, jahil tentang Allah Subhanahuwata’ala, nama-nama-Nya, sifat-sifat- Nya, dan tentang agama-Nya, serta menggantungkan hatinya kepada selain Allah Subhanahuwata’alal.

Semua bentuk kenikmatan ini akan menjadi kebun dari salah satu kebun surga di dalam kubur. Demikian halnya kesempitan dada dan kerdilnya hati akan berubah menjadi azab dan belenggu di dalam kubur. Keberadaan seseorang di alam kubur bagaikan keberadaan hati di dalam dada, akankah bernikmat atau mendapat siksaan, terbelenggu atau mendapatkan kemerdekaan? Tidak ada yang menjadi penghalang jika dada tersebut menjadi lapang, sebagaimana tidak ada yang akan menjadikan dada tersebut sempit, karena semuanya itu akan sirna dengan sirnanya sebab-sebabnya. Segala sifat yang akan menyentuh dan hinggap di dalam hati, maka itulah yang akan menjadikan dada tersebut lapang atau sempit. Inilah yang menjadi barometernya, wallahulmusta’an.”(Zadul Ma’ad 2/23)

Berani dan Berharap, Sebuah Pengorbanan dan Perjuangan

Berani dan berharap dalam hidup adalah dua senyawa yang jika bertemu dan berbaur, akan menjadi sebuah akhlak yang sangat terpuji. Sifat berani adalah sifat terpuji yang mengandung segala akhlak yang terpuji lainnya.

Keberanian adalah buah dari iman seseorang kepada Allah Subhanahuwata’ala. Terlebih jika dia mengimani adanya hari kebangkitan dan hari kiamat. Allah Subhanahuwata’ala telah memuji sifat berani di jalan-Nya sebagaimana dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari sahabat Abu Musa radhiyallahu anhu, ia berkata, “Dikatakan, ‘Ya Rasulullah, seseorang berperang dengankeberanian, berperang karena kebangsaan, berperang dengan landasanriya, siapakah diantara mereka Yang benar-benar berjuang di jalan Allah Subhanahuwata’ala?’

Beliau menjawab, “Barangsiapa berperang untuk menegakkan kalimat Allah Subhanahuwata’ala, sesungguhnya dialah yang berada di atas jalan Allah Subhanahuwata’ala.” Kesempurnaan sifat keberanian itu ada pada sifat al-hilm yang artinya sabar, tidak tergesa-gesa, cerdas, dan tangkas, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ وَإِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي

 “Bukanlah yang dinamakan kuat itu adalah orang yang bisa membanting lawan, tetapiyang dikatakan kuat adalah orang yang bisa menahan diritatkala marah.” (Majmu’ Fatawa 15/432)

Berharap adalah buah dari ilmu tentang sifat rahmat Allah Subhanahuwata’ala, seperti pengampunan, kelembutan, maaf, dan kebaikan. Berharap terhadap pahala yang ada di sisi-Nya termasuk amalan hati yang paling besar dan pendorong kepada ketaatan yang paling kuat. Kekuatan berharap di dalam hati tergantung pada kekuatan ilmu kita kepada Allah Subhanahuwata’ala dan sifat-sifat-Nya.

Ibnul Qayyim rahimahumullah berkata , “Kuatnya berharap itu tergantung pada kekuatan pengetahuan tentang Allah Subhanahuwata’ala, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta pengetahuan bahwa rahmat Allah Subhanahuwata’ala mengalahkan murka-Nya. Tanpa ruh berharap, niscaya akan lenyaplah ubudiyah hati dan anggota badan. Akan hancur pula tempat-tempat menyebut nama-nama Allah Subhanahuwata’ala.”

Berharap itu adalah sebuah ibadah yang tidak boleh lepas dari kehidupan seorang muslim, baik saat melakukan kebaikan maupun melakukan kejelekan. Saat dia melakukan kebaikan, dia berharap bahwa amalnya diterima, yang wajib atau yang sunnah. Adapun saat dia melakukan kejelekan, dia berharap diterima tobatnya dan dimaafkan kesalahan-kesalahannya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 218)

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ

Katakanlah,“Hai hamba-hamba- Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Alah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (az-Zumar: 53)

Maksud ayat ini adalah bagi orang yang bertobat. Oleh karena itu, Allah Subhanahuwata’ala mengumumkan bagi orang yang berbuat dosa, apa pun perbuatan dosa tersebut. Artinya, Allah Subhanahuwata’ala akan mengampuni dengan taubat yang baik, bagi siapa pun yang berdosa atas dosa apa pun, dan ini khusus taubat sebagai sebab pengampunan. Sampai-sampai ulama berselisih pendapat dalam hal mana yang lebih utama antara dua orang yang berharap tersebut. Sebagian mereka mengatakan lebih utama berharapnya orang yang berbuat baik, karena kuatnya sebab-sebab berharap itu pada dirinya.

Sebagian lagi mengatakan yang lebih utama adalah berharapnya orang yang berbuat salah untuk bertobat karena berharapnya itu bersih dari amalan yang jelek dan selalu dibarengi melihat kesalahannya. Namun, yang tampak adalah keutamaan tersebut tidak ditinjau dari sisi berharap itu, tetapi keutamaan tersebut sangatlah tergantung pada apa yang terdapat di dalam hati pemiliknya yaitu sifat takwa di saat dia berharap. Barang siapa lebih bertakwa, tentu berharapnya lebih afdal, apakah di saat dia berbuat baik ataupun berbuat salah. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kalian.” (al-Hujurat: 13)

Dari penjelasan di atas, tampak jelas tentang berharap yang terpuji berupa bentuk berharapnya orang yang berbuat amalan agar amalnya diterima, atau berharapnya orang yang bertaubat agar taubatnya diterima. Adapun berharap yang kosong dari karya nyata (amal) dan terus dalam kemaksiatan lalu bersandar kepada pengampunan Allah Subhanahuwata’ala maka sikap ini adalah maghrur (tertipu) dan merasa aman dari azab Allah Subhanahuwata’ala.”

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

 “Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (al- A’raf: 99)

Sebab, hukuman orang yang berbuat maksiat adalah istidraj (dibiarkan) atas kemaksiatannya, pada akhirnya dibinasakan setelahnya.” (Atsar al- Matsalul al-‘A’la hlm. 25)

Ilmu, Fondasi Akhlak yang Agung

Ibnu Qayyim rahimahumullah berkata , “Pengetahuan seorang hamba tentang keesaan Allah Subhanahuwata’ala dalam hal menolak mudarat, mendatangkan manfaat, memberi, tidak memberi, menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan akan membuahkan ubudiyah tawakal batiniah.

Konsekuensi tawakal dan buahbuahnya jelas sekali. Pengetahuan dia tentang Allah Maha Mendengar, Melihat, dan tentang ilmu Allah Subhanahuwata’ala yang tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu pun yang paling kecil, baik di langit maupun di bumi. Allah Subhanahuwata’ala mengetahui yang tersembunyi dan yang tampak. Allah l juga mengetahui mata yang berkhianat dan segala yang tersembunyi di dalam dada. Semua ini akan membuahkan terjaganya lisan, anggota badan, dan pikirannya dari segala yang tidak diridhai oleh Allah Subhanahuwata’ala.

Dia menjadikan semua anggota tubuhnya tergantung kepada apa yang dicintai oleh Allah Subhanahuwata’ala dan diridhai-Nya. Semua ini juga akan melahirkan rasa malu di dalam batin yang akan membuahkan sikap menjauhkan diri dari segala yang diharamkan dan segala yang jelek. Mengenal Allah l bahwa dia adalah Dzat yang Mahakaya, dermawan, mudah memberi, banyak kebaikannya, dan penyayang; akan melahirkan harapan yang luas lalu membuahkan segala bentuk ubudiyah lahiriah dan batiniah.

Semuanya tergantung pada pengetahuan dan ilmunya. Demikian pula pengetahuan seorang hamba tentang keagungan Allah Subhanahuwata’ala, kemuliaan-Nya akan membuahkan ketundukan, ketenteraman, dan kecintaan yang akan melahirkan segala bentuk pengabdian lahiriah kepada Allah l dan itulah konsekuensinya.

Demikian pula tatkala berilmu tentang kesempurnaan dan keindahan, serta ketinggian sifatsifat- Nya akan melahirkan kecintaan yang khusus dalam semua bentuk ubudiyah. Oleh karena itu, semua bentuk pengabdian akan kembali kepada namanama dan sifat-sifat Allah l. Semua bentuk peribadahan terikat dengan semua di atas sebagaimana terikatnya ciptaan dengan-Nya.

Di alam ini, seluruh ciptaan dan perintah Allah Subhanahuwata’ala adalah konsekuensi dari nama-nama dan sifatsifat- Nya. Allah Subhanahuwata’ala tidak akan menjadi mulia karena ketaatan mereka dan tidak akan hina karena kemaksiatan mereka. Renungilah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Shahih al-Bukhari, yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayatkan dari Rabbnya,

يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّونِي

 “Hai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak mampu berbuat mudarat terhadap-Ku hingga mencelakai- Ku. Kalian juga tidak dapat berbuat kemanfaatan bagi-Ku hingga memberiku manfaat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkannya setelahnya,

يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَاأَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيْعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

“Hai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan dimalam hari dan sianghari, sementara Aku adalah pengampundosa, maka minta ampunlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian.”

Ini mengandung makna bahwa apa yang diperbuat oleh Allah Subhanahuwata’ala terhadap mereka dalam hal mengampuni kesalahankesalahan mereka, dikabulkannya permintaan mereka, dan dilepaskannya mereka dari segala bentuk malapetaka, tidak berarti Allah mengambil manfaat darimereka.(Madarijus Salikin 2/90)

Koreksilah Berharapmu dan Perbaruilah Cintamu

Berharap itu sumbernya adalah menyaksikan janji-janji Allah l dan berbaik sangka kepada Allah Subhanahuwata’ala, serta menyaksikan segala apa yang dipersiapkan oleh Allah l bagi orang yang mengutamakan Allah l, Rasulullah n, dan negeri akhirat. Berharap menjadikan petunjuk sebagai hakim terhadap hawa nafsunya, dan wahyu atas ra’yu-nya (pendapatnya), sunnah atas bid’ah, dan menjadikan hakim segala apa yang telah dilalui oleh para sahabat atas adat istiadat yang berlaku.

Sementara itu, cinta itu sumbernya adalah menyaksikan nama-nama Allah Subhanahuwata’ala dan sifat-sifat-Nya sebagaimana menyaksikan segala nikmat dan pemberian-Nya. Apabila mengingat dosa-dosanya, ia berbalut rasa takut; apabila mengingat rahmat Allah Subhanahuwata’ala, luas pengampuan, dan maaf-Nya, dia berbalut rasa berharap; dan apabila mengingat keindahan dan keagungan Allah l, kesempurnaan-Nya, kebaikan dan nikmat-Nya, ia akan berbalut rasa cinta.

Oleh karena itu, hendaklah setiap hamba menimbang imannya dengan tiga hal ini (takut, berharap, dan cinta) agar dia mengetahui kadar iman yang dimilikinya. Sesungguhnya, hati itu terfitrah dengan Ramah Lingkungan cinta kepada keindahan dan cinta kepada Pemberi Keindahan, dan Allah Subhanahuwata’ala adalah Dzat Yang Mahaindah, keindahan yang sempurna dari segala sisi.

 Indah pada Dzat-Nya, indah pada sifat-Nya, indah pada perbuatan-perbuatan-Nya, dan indah pada nama-nama-Nya. Jika berkumpul keindahan seluruh makhluk pada seseorang lalu dibandingkan dengan keindahan Allah l, perbandingannya lebih lemah daripada pancaran cahaya lentera yang paling lemah di hadapan pancaran sinar matahari. (Madarijus Salikin 3/288)

Sifat berharap yang penuh kejujuran memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan seorang muslim. Berharap akan membangkitkan dan mendorong untuk bertobat dengan benar, mendorong untuk beramal saleh berharap keberuntungan dengan surga Allah Subhanahuwata’ala, melihat-Nya, dan mendengar pembicaraan-Nya. Berharap yang jujur akan menjaga akidah seorang muslim dari bergantung kepada makhluk mengharapkan keberkahan dari mereka, atau syafaat, atau jalan keluar dari malapetaka. Oleh karena itu, pada kehidupan seorang muslim yang jujur, Anda tidak menjumpai penampilan-penampilan syirik dalam harapan, seperti mencari berkah melalui kedudukan para nabi, dengan para wali, dan melalui kuburan-kuburan mereka; atau mencari berkah di sumber mata air, gua, atau tempat sejenisnya.

Sebab, seorang muslim mengetahui dengan keyakinan yang benar bahwa Allah Subhanahuwata’ala adalah Dzat yang tunggal dalam hal mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Dia mengimani bahwa Allah Subhanahuwata’ala adalah satu-satunya Dzat tempat menggantungkan harapan segala yang dicita-citakannya berupa kebaikan dunia dan akhirat. (Atsaral-Matsalulal-A’la hlm. 25)

Rabu, 02 Desember 2015

Efek Samping Debat Kusir


Sobat, di media media sosial seringkali  kita melihat orang berdebat dalam masalah yang pada asalnya tidak perlu diperdebatkan, bukannya masalah tersebut kurang penting, namun lebih karena memang jika debat dilanjutkan tak akan menemui jalan temu alias deadlock.

Deadlock bisa terjadi karena kacamata yang digunakan oleh para pendebat memang berbeda. Ketika kacamata berbeda tentu saja cara pandangpun berbeda, kecuali adanya suatu kesepakatan bagaimana menempuh jalan yang dapat mempersamakan persepsi.  Jadi, jangan sampai ketika seseorang melihat dengan kacamata cembung bisa disamakan dengan orang yang memandang dengan kacamata cekung.
Selain perbedaan kacamata debat juga kurang berfaidah dikarenakan hampir mayoritas pendebat memiliki pola pikir mengedepankan hawa nafsu, bukan mencari kebenaran. Artinya sebenar dan sejujur  apapun argumentasi yang diberikan lawan tak akan membuat tergerak hati menuju kebenaran.

Sobat, perdebatan yang berkepanjangan ternyata bermula dari niatan. Niatan manusia tentunya berbeda. Ada manusia yang memiliki niatan bersih menyuarakan kebenaran (lillahi ta’ala) ketika menyampaikan argumen. Ada manusia dengan niatan politik. Ada pula manusia dengan niatan mencari jeneng “nama” dan jenang “harta”. Maka dari sinilah factor bermula mengapa setiap terjadi perdebatan, seringkali terjadi deadlock.  Seperti kata peribahasa “dalam laut dapat diukur dalamnya hati siapa sangka” artinya tak ada yang dapat membaca setiap isi hati dan niatan manusia.

Sedikit gambaran saja ketika ada persoalan yang berhubungan dengan agama, maka kembalikan sudut pandangnya pada sudut pandang agama. Sedikit contoh saja: saat membahas masalah jilbab, maka arahkan argumentasi dengan dalil-dalil nash kitab suci, jangan dengan dalil hukum adat, sosbud, hukum KUHP, atau apalah..sebab hal macam ini mustahil akan bertemu ujung pangkalnya.

 Sebagai ending jika debat (baca: diskusi) kalian ingin menghasilkan ujung yang berbunga, maka:
1. Jujurlah, jangan tolak kebenaran hanya karena fanatisme sempit;
2. Tetapkan standar yang sama/ tetapkan acuan kebenaran pada satu sudut pandang; 
3. Hindari debat ala kusir kuda ( ku usir ku depak lawan karena nafsu semata) 

Sebagai tambahan informasi, simak sobat akibat-akibat buruk debat : 
1. Kebenaran atau al haq menjadi terkaburkan akibat, kerancuan berpikir yang barhasil dihembuskan lawan debat. “HEMMM” 
2. Debat menyebabkan jantung berdebar-debar, andrenalin sangat terpacu saat mencoba mencari dan menyerang kelemahan dari argumen lawan. Aliran darah terasa melaju kencang ke kepala. Bisa dibayangkan jika ini dialami oleh penderita tekanan darah tinggi, bisa-bisa kena stroke, bukan? “WOW 1”
3. Debat menyebabkan sulit tidur/Insomnia. Meskipun perdebatan telah usai, tapi biasanya detail perdebatan tersebut terus berkecamuk di dalam kepala. Dan gawatnya ini sering terbawa hingga waktu tidur. “WOW 2”
4. Debat menyebabkan stress!! Kalah dalam berdebat akan memberikan efek stress bagi orang yang mengalaminya. Begitu juga bagi pihak yang menang dalam perdebatan. Karena seringnya pemenang debat masih terus mencari kekurangan pihak lain meskipun telah 'menang'. “WOW 3” Demikain sedikit opini yang dapat di share semoga bermanfaat,….Wallahu’alam “Al haq akan tetap menjadi al haq walau pun banyak orang mendebatnya.

Dari Abdus Shamad bin Ma’qil ia berkata, saya mendengar Wahb mengatakan :
“Tinggalkanlah percekcokan dan perdebatan dalam urusanmu karena sesungguhnya kamu tidak mungkin melemahkan salah satu dari dua lawanmu, yaitu seseorang yang lebih alim darimu, maka bagaimana mungkin kamu membantah dan mendebat orang yang lebih alim dari dia, maka apakah pantas kamu membantah dan mendebat orang yang jelas lebih alim dari kamu? Dan seseorang yang kamu lebih alim dari dia maka apakah pantas kamu membantah dan mendebat orang yang lebi bodoh dari kamu? Sedangkan ia tidak akan mentaati kamu, maka putuslah yang demikian atasmu (Asy Syari’ah hal: 64) 

Sabtu, 28 November 2015

Download E-Book Islami Ahlus Sunnah waljama’ah

Download Kitab At Tauhid, Download Ushulu Tsalasah, Download Al Jrumiyyah, Download Durushul Lughoh al Arabiyah, Download Panduan Tajwid, Download Shahih Bukhori, Download Shahih Adabul Mufrod Imam Bukhori, Download Kisah Ulama Salaf, Download E-book Panduan Nikah Sesuai Sunnah dan download pula puluhan e-book Islami lainnya.


BELAJAR TAUHID
(download) Tiga Landasan Utama (Ushulu Tsalasah)
(download) Kitab At Tauhid
(download) Jalan Tauhid Syaikh Jamil Zainu 

MANHAJ
(download) Manhaj Ahlus Sunnah Dalam Mengkritik (PDF) – Asy Syaikh Rabi’

ETIKA  DALAM  ISLAM
(download) Bimbingan untuk Masyarakat Muslim 
(download) Etika Kehidupan Muslim
(download) Permata Nasihat Ulama Salaf 
(download) Sehari di Kediaman Rasulullah 
(download) Sunnah dalam Menyikapi Penguasa 

PELAJARAN BAHASA ARAB
(download) Al  Jrumiyyah in Chart Form 
(download) Al Jrumiyyah Matan
(download) Al  Jrumiyyah Terjemahan 
(download) Belajar Bahasa Arab
(download) Panduan Durusul Lughoh al Arabiyah 1
(download) Panduan Durusul Lughoh al Arabiyah 2
(download) Panduan Durusul Lughoh al Arabiyah 3
(download) Pengantar Mudah Belajar Bahasa Arab
(download) Pelajaran Bahasa Arab 
(download) Panduan Tajwid 

HADIST
(download) Atlas ahadeeth 
(download) Biografi Para Ulama Ahlul Hadist
(download) Hadist Arbain Nawawi 
(download) Shahih Adabul Mufrod Imam Bukhori 
(download) Shahih Bukhori

FIQIH
(download) Panduan Nikah Sesuai Sunnah
(download) Tabel Ringkasan Zakat
(download) Tata Cara Penyembelihan Hewan Qurban

KISAH
(download) Kisah Mualaf Dunia 
(download) Kisah Ashabul Ukhdud (pembuat parit)

DO’A
(download) Kumpulan Do’a dalam Hisnul Muslim
(download) Audio Kumpulan Do’a

HIKMAH
(download) Kumpulan Mutiara Hikmah Ucapan Salaful Ummah

HUKUM ISBAL
(download) Hukum Isbal (menggenakan pakaian,celana,sarung; melewati mata kaki)

KEUTAMAAN ISLAM (TERJAMAHAN KITAB FADHLUL ISLAM)
(download) Kitab Fadhlul Islam (Keutamaan Agama Islam)

Insyaa Allah E-book yang lain menyusul

                                                                                

Minggu, 22 November 2015

Atlas Sejarah Islam

"Pemerintahan dan Dinasti-dinasti Besar dalam Islam"
Islam adalah agama langit, yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kepada nabinya, Rasulullah Muhammad Shalallahi alaihi wasallam.  Islam  mengatur berbagai aspek kehidupan manusia dari segala sisi baik di bidang ekonomi, politik, kebudayaan, sosial dan lain-lain. Juga menggariskan metode yang benar dan tepat untuk memecahkan kesulitan dalam bidang-bidang tersebut. Islam berusaha mengatur kehidupan  manusia. Unsur pokok dalam hal ini adalah mengatur waktu. Islam merupakan satu-satunya ajaran yang paling kuat untuk dapat membahagiakan manusia di dunia dan akhirat. Islam sebelum menjadi syari’at (peraturan Allah) adalah sebagai kepercayaan atau keyakinan (bahwa Allah adalah sembahan yang hak). Karena Rasul Allah memusatkan upayanya di Makkah terhadap hal tauhid, baru setelah hijrah ke Madinah, mendirikan negara dan menerapkan/mempraktekkan syari’at Islam.

Buku yang berjudul Atlas Sejarah Islam secara garis besar, berusaha mengisahkan sejarah munculnya Islam sejak masa menjelang Rasulullah lahir sampai dengan masa dinasti Khan di India.


Meskipun tidak mengisahkan secara detail dan lengkap, namun sedikit banyak buku ini dapat memberikan gambaran kebesaran dinasti Islam di masa pasang surut kejayaannya. Dari sisi penulisan, buku ini lebih menelisik pada bahasa ilmu Sejarah yang dilengkapi pula dengan peta persebaran dinasti-dinasti Islam. Pada halaman terakhir, pencantuman daftar pustaka, merujuk pada ulama ahlussunnah seperti al Imam Adz Dzahabi dalam syiar an Nubala, Ibnu Katsir dalam Tarikh al Bidayah wa an Nihayah, At-Thabari dalam Tarikh al Umam wa al Mulk, Ibnu Hisyam dalam As Sirah an Nabawiyah, Syaikh Syaifurrahman al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq al Maktum dll.

“Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, Beliau diam,” [HR. Imam Ahmad].
Andalusia 



Ringkasan Daftar Isi Buku
BAGIAN PERTAMA
FAJAR ISLAM
SEJARAH HIJAZ
                TAHUN GAJAH
NABI MUHAMMAD
ISLAM
PERANG-PERANG ZAMAN RASULULLAH
                PERANG BADAR KUBRO
                PERANG BADAR DAN SYARIAT ISLAM
                PERANG UHUD
                PERANG KHANDAQ
                PERJANJIAN PERANG HUDAIBIYAH
                PASCA PERJANJIAN DAMAI
                HUDAIBIYAH
                PASCA PERJANJIAN DAMAI
                HUDAIBIYAH
                PEMBEBASAN KHAIBAR
                PERANG KHAIBAR
                PERANG KHAIBAR DAN WADIL QURA
                PEMBEBASAN MEKAH
HAJI WADA
PERMULAAN PEMERINTAHAN YANG RASYID
                PEMERINTAHAN YANG RASYID
NEGARA ISLAM PERIODE KHULAFA RASYIDIN
                PERANG PERSIA
                PERANG ROMAWI
                PERANG QADISIYAH
                PENAKLUKAN PERSIA DAN AZERBAIZAN
                PEMBEBASAN MESIR DAN AFRIKA UTARA
KEMAJUAN ISLAM DI MASA KHULAFA RASYIDIN
                PEMERINTAHAN
                KEHAKIMAN
                PASUKAN PERANG
                PUNGUTAN
                ZAKAT
                PAJAK
                MATA UANG
                HAJI
                SALAT
                BELAJAR MENGAJAR
BAGIAN KEDUA :
DINASTI UMAWIYAH
DARI MASA AWAL SAMPAI BERKUASA DI SYAM
                BIDANG POLITIK
                BIDANG EKONOMI
                PEMBERONTAKAN PADA DINASTI UMAWIYAH
                PENAKLUKAN AFRIKA DAN MAROKO
                PENAKLUKAN ANDALUS
PERISTIWA TERPENTING ABAD 1 HIJRIAH
DINASTI UMAWIYAH DI ANDALUS
                JASA DINSASTI UMAWIYAH
BAGIAN KETIGA
DINASTI ABBASIYAH
DINASTI ABBASIYAHA
TATA NEGARA PADA DINASTI ABBASIYAH
PERIODE DINASTI ABBASIYAH
                PERIODE PERTAMA (PERIODE EMAS)
                PERIODE KEDUA (MASUKNYA BANGSA TURKI)
                PERIODE PARA EMIR
                PERIODE KETIGA (MASUKNYA BANI BUWAIH)
                PERIODE KEEMPAT (MASUKNYA BANGSA SELJUK)
LEMAHNYA DINASTI ABBASIYAH
NEGARA-NEGARA YANG MERDEKA DAN LEPAS PADA ZAMAN DINASTI ABBASIYAH
1.    DINASTI RUSTAMIYAH  (SEKTE KHAWARIJ, PENDIRI ABDURRAHMAN BIN RUSTAM/144-296          H/761-908 H)
2.       DINASTI IDRISIYAH (DINASTI SYIAH PERTAMA,KERAJAAN ZAIDIYAH, PENDIRI IDRIS BIN ABDULLAH 172              364H/789-975         M)
3.       SILSILAH KELUARGA IDRISIYAH
4.       DINASTI AGHLABIYAH (PENDIRI IBNU AGHLAB, GUBERNUR TUNISIA/184-296          /800-909 M)
5.   DINASTI THAHIRIYAH, KHURASAN  (DIRIRIKAN THAHIR BIN HUSAIN, PANGLIMA PERANG MASA           KHALIFAH AL MAKMUN/821-873 H/821-873 M)
6.     DINASTI SHAFARIYAH (DIDIRIKAN YA’KUB BIN LAITS ASH-SHAFFAR/254-295 H/868-908 M)
7.   DINASTI SAMANIYAH (SYIAH, DIDIRIKAN NASHR BIN AHMAD AS SAMANI/261-389 H/875-999 M)
8.       DINASTI TULUNIYAH (DIDIRIKAN IBNU TULUN/254-292 H/868=905 M)
9.   DINASTI HAMDANIYAH (SYIAH, DIDIRIKAN HAMDAN BIN HAMDAN/317-394 H/929-1003 M)
10.    DINASTI IKHSYIDIYAH (DIDIRIKAN MUHAMMAD BIN THUGJ/323-358 H/934-969 M)
11.    DINASTI BUWAIHIYAH (SYIAH, DIDIRIKAN ALI BIN BUWAHIYAH/334-447/945-1055 M)
12.  DINASTI FATHIMIYAH (SYIAH, SEKUTU QARAMITHAH PENDIRI SAID BIN HUSEIN (UBAIDULLAH AL       MAHDI)/297-567                 H/909-1171 M, DINASTI RUNTUH OLEH SHALAHUDIN AL AYYUBI)
13.    DINASTI QARAMITHAH (SYIAH, PEMBUNUH 20.000 JAMAAH HAJI, PENCONKEL BATU HAJAR              ASWAD,                 PROTOTYPE KOMUNIS/258-418 H/ 871-1027 M)
14.    DINASTI  GAZNAWIYAH (PENDIRI ALBTAKIN 351-582 H/962-1187)
15.    DINASTI SALJUK (PENDIRI TUGHRUL BEG/429-701 H/1037-1302 M)
16.  DINASTI GHURIYAH (CIKAL BAKAL DINASTI MAMELUK TURKI, PENDIRI IZZUDIN HUSAIN BIN HASAN   BIN MUHAMMAD/439-582)
17.   DINASTI KHAWARAZMIYAH (PENDIRI ANUSTAKIN GARCAI, KERAJAAN HANCUR DI TANGAN                 ORANG   MONGOL-GHENGIS KHAN/439-628 H)
18.    DINASTI ARTAQIYAH (PENDIRI ARTAQ BIN ALB ARSLAN, BERKUASA DI AL QUDS DI BAWAH                 DINASTI SELJUK)
19.    DINASTI ATABIKIYA (PENDIRI IMADUDDIN ZANKI BIN AQ SANQAR, ATABIQ (WAKIL) SULTAN               SELJUK/416-579 (SHOLAHUDIN AL AYYUBI MENGUASAI WILAYAH INI)
20.    DINASTI AYYUBIYAH (DINISBAHKAN PADA NAMA NAJMUDDIN AYYUB BIN SYADIY, DIDIRIKAN              OLEH                 SHALAHUDDIN YUSUF BIN AYYUB, PEMIMPIN TERBESAR DINASTI INI ADALAH         SHALAHUDDIM AL                 AYYUBI, PAHLAWAN ISLAM DALAM PERANG SALIB/ 567-648/1172-1250 M)
DINASTI-DINASTI AFRIKA DAN ANDALUS
1.       DINASTI MURABITHIN (WILAYAH MAROKO, PENDIRI YUSUF BIN TASFIN, PEMENANG PERANG              ZALAKA MELAWAN ALFONSO (SPANYOL)/ 453-541 H)
2.    DINASTI MUWAHHIDIN ( DINASTI INI DIDIRIKAN OLEH MUHAMMAD BIN TUMART DARI        KABILLAH              ZANATAH BARBAR, BERDAKWAH UNTUK MAZHAB TAUHID, WILAYAH        ANDALUS/524-     609H)
3.       DINASTI BANI MARIN (PENDIRI ABDUL HAQ AL MARIN/612-875 H)
4.    DINASTI BANI ZAYYAN TERMASUK BANI ABDUL WADD (PENDRI ABU YAHYA BIN YAGMARASAN          BIN          ZAYYAN AL ABDAWANI, MEMDUDUKI ALJAZAIR/633-962 H)
5.   DINASTI HAFSIYYIN (DINASTI INI DINISBAHKAN KEPADA ABU HAFSH UMAR BIN ZAKARIYA YAHYA       AL                 HANTATI/625-941H)
BAGIAN KEEMPAT
PERANG DUNIA ISLAM
EKSPEDISI PERANG SALIB
                PERANG SALIB PERTAMA
                PERANG SALIB KEDUA
                PERANG SALIB KETIGA
                PERANG SALIB KEEMPAT
                PERANG SALIB KELIMA
                PERANG SALIB KETUJUH
SERANGAN MONGOLIA KE WILAYAH ISLAM
                DINASTI IL KHAN